9 Penemuan Muslim yang Menggoncang Dunia

Kehidupan modern tak lepas dari penemuan-penemuan ilmuwan muslim. Proyek 1001 kembali mengingatkan sejarah 1000 tahun warisan muslim yang terlupakan. “Ada sebuah lubang dalam ilmu pengetahuan manusia, melompat dari zaman Renaisans langsung kepada Yunani,”

Download Al - Qur'an Mp3

Agar kita dapat mendengar lantuanan Al-Qur'an setiap saat. Kita bisa download Al-Qur'an mp3 di bawah ini. File tersebut dapat kita putar di komputer, notebook, handphone, dan gadget lainnya.

Mengembalikan "Fitrah" Peran Perempuan

Melihat wanita menjadi sopir kendaraan umum busway misalnya, bukanlah pemandangan yang aneh. Jangan heran juga jika ada ibu-ibu mengayuh becak di sekitar anda. Pekerjaan-pekerjaan berat (baca: pekerjaan lelaki) tersebut tidak canggung dilakoni oleh wanita saat ini.

Nikmat Yang Terlupakan

Allah Ta’ala telah menciptakan manusia dan memberikan kenikmatan yang tidak terhingga. Manusia tidak akan mampu menghitungnya.

Khalid bin Walid radhiallahu 'anhu

ORANG seperti dia, tidak dapat tanpa diketahui dibiarkan begitu saja. Dia harus diincar sebagai calon pemimpin Islam. Jika dia menggabungkan diri dengan kaum Muslimin dalam peperangan melawan orang-orang kafir, kita harus mengangkatnya kedalam golongan pemimpin" demikian keterangan Nabi ketika berbicara tentang Khalid sebelum calon pahlawan ini masuk Islam.

بِسْــــــــــــــــــمِ اﷲِالرَّحْمَنِ اارَّحِيم

Sunday, September 25, 2011

Mengembalikan "Fitrah" Peran Perempuan


Melihat wanita menjadi sopir kendaraan umum busway misalnya, bukanlah pemandangan yang aneh. Jangan heran juga jika ada ibu-ibu mengayuh becak di sekitar anda. Pekerjaan-pekerjaan berat (baca: pekerjaan lelaki) tersebut tidak canggung dilakoni oleh wanita saat ini. Kebutuhan ekonomi yang mendesak dan ide pemberdayaan ekonomi perempuan yang didengung-dengungkan oleh kaum feminis telah menyihir wanita-wanita Indonesia untuk terjun langsung di sektor ekonomi.

Dengan dalih pemberdayaan ekonomi perempuan tidak hanya akan memberi keuntungan, tetapi juga memberi solusi dari persoalan keluarga termasuk masalah perekonomian negara, maka dicanangkanlah program pemberdayaan perempuan berdasarkan Instruksi Presiden RI No.9 Tahun 2000 Tentang Pengarusutamaan Gender dalam Pembangunan Nasional Tanggal 19 Desember 2000.
Benarkah dengan pemberdayaan ekonomi perempuan ini bisa memperbaiki ekonomi keluarga-keluarga Indonesia yang notabene hampir 50% nya ini berada dalam kemiskinan?

Program pemberdayaaan ekonomi perempuan tersebut telah menggeser peran perempuan sebagai ibu menjadi ‘kepala’ rumah tangga yang harus menafkahi keluarga. Hal ini terjadi lantaran diterapkannya sistem kapitalisme yang secara nyata menunjukkan perlakukan keji terhadap perempuan karena menilai perempuan sebagai komoditi yang layak dieksploitasi demi mendatangkan materi. Kapitalisme juga mengukur partisipasi perempuan dalam pembangunan bangsa hanya dari kontribusi materi.

Program-program pemberdayaan ekonomi perempuan yang digencarkan oleh pemerintah, hanya bersifat parsial dan tidak menyentuh akar permasalahan mengenai kemiskinan. Padahal kemiskinan merupakan persoalan seluruh lapisan masyarakat, bukan hanya persoalan perempuan. Terlebih lagi penyebab kemiskinan saat ini, sifatnya struktural akibat diterapkannya sistem kapitalis.
Lalu apa hasil yang sudah dirasakan oleh bangsa ini dengan dilakukannya program pemberdayaan ekonomi perempuan? Apakah sesuai dengan harapan ataukah sebaliknya?

Ide pemberdayaan perempuan telah menambah tingkat perceraian akibat ketimpangan ekonomi keluarga, rusaknya generasi akibat rendahnya perhatian orang tua khususnya ibu, meningkatnya single parent dan rendahnya keinginan untuk menikah karena ingin menjadi wanita karir atau TKW.


Mengembalikan Peran Perempuan dalam Islam
Allah Swt. telah memberi kedudukan mulia bagi perempuan dengan menetapkan mereka menjadi seorang ibu dan pengatur rumah tangga. Itulah posisi terbaik bagi wanita, karena Allah Pencipta segenap makhluk sangat mengetahui apa yang terbaik bagi mereka.

Karena kewajiban utamanya menjadi ibu dan pengatur rumah tangga, maka Islam memberi hak bagi perempuan untuk mendapatkan nafkah dari suaminya. Mereka tinggal di dalam rumah, tetapi mendapat pemenuhan kebutuhan hidupnya secara makruf (Lihat: QS al-Baqarah [2]: 223).

Dalam sorotan Syariah, Islam sangat memperhatikan peran dan tugas ibu karena ibulah kunci lahirnya generasi tangguh yang akan melanjutkan peradaban yang lebih baik. Menjadi ibu berkualitas haruslah memiliki kecerdasan spiritual, kecerdasan ruhiyah yang menyadari bahwa dirinya adalah hamba Allah yang wajib menjalankan seluruh peran keibuan dalam rumah tangga dan meyakini semua itu akan dimintai pertanggungjawaban kelak oleh Allah Swt.

Hal ini akan mendorong para ibu untuk melaksanakan tugas dengan penuh keikhlasan semata mencari ridha-Nya. Ibu yang berkualitas juga harus memiliki kepribadian Islam. Maksudnya setiap tingkah laku dan cara berpikirnya selalu diarahkan oleh aturan-aturan Islam yang dilandasi oleh Iman.
Ketika peran ibu dan pengurusan rumah tangga diabaikan, maka akan terjadi kerusakan yang akan menimpa anak-anak, suami dan tentu saja ibu itu sendiri. Anak-anak tidak terawat dengan baik, keadaan ini akan memunculkan generasi yang lemah.

Rumah tangga pun tidak terurus, memicu percekcokan suami-istri. Rapuhnya institusi keluarga muslim yang akan menuju pada ambang kehancuran seperti yang dikehendaki demokrasi kapitalisme.

Program pemberdayaan perempuan yang diperjuangkan selama ini adalah alat yang telah merusak tatanan keluarga dan menambah permasalahan negeri ini. Perubahan lebih baik hanya bisa diwujudkan dengan Syariah dan Khilafah bukan dengan tetap kukuh dengan demokrasi. Wallahu a'lam. (*)


Penulis: Ummu Arik (Aliya), Ibu rumah tangga, alumnus Universitas Padjadjaran Bandung
Sumber : EraMuslim.com

Wednesday, September 21, 2011

Nikmat Yang Terlupakan

Allah Ta’ala telah menciptakan manusia dan memberikan kenikmatan yang tidak terhingga. Manusia tidak akan mampu menghitungnya.

Allah berfirman:
وَإِن تَعُدُّوا نِعْمَةَ اللهِ لاَ تُحْصُوهَا إِنَّ اللهَ لَغَفُورٌ رَّحِيمٌ
"Dan jika kamu menghitung-hitung nikmat Allah, niscaya kamu tak dapat menentukan jumlahnya. Sesungguhnya Allah benar-benar Maha Pengampun lagi Maha Penyayang."
(Qs. An-Nahl: 18)


NIKMAT SEHAT

Di antara kenikmatan Allah yang sangat banyak adalah kesehatan. Kesehatan merupakan kenikmatan yang diakui setiap orang, memiliki nilai yang besar. Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam telah menyebutkan hal ini dengan sabdanya:

مَنْ أَصْبَحَ مِنْكُمْ مُعَافًى فِي جَسَدِهِ آمِنًا فِي سِرْبِهِ عِنْدَهُ قُوتُ يَوْمِهِ فَكَأَنَّمَا حِيزَتْ لَهُ الدُّنْيَا
"Barangsiapa di antara kamu masuk pada waktu pagi dalam keadaan sehat badannya, aman pada keluarganya, dia memiliki makanan pokoknya pada hari itu, maka seolah-olah seluruh dunia dikumpulkan untuknya."
(HR. Ibnu Majah, no: 4141; dan lain-lain; dihasankan oleh Syaikh Al-Albani di dalam Shahih Al-Jami’ush Shaghir, no: 5918)

Kita melihat kenyataan manusia yang rela mengeluarkan biaya yang besar untuk berobat, ini bukti nyata mahalnya kesehatan yang merupakan kenikmatan dari Allah Ta’ala. Akan tetapi kebanyakan manusia lalai dari kenikmatan kesehatan ini, dia akan ingat jika kesehatan hilang darinya.

Diriwayatkan bahwa seseorang mengadukan kemiskinannya dan menampakkan kesusahannya kepada seorang ‘alim. Maka orang ‘alim itu berkata: “Apakah engkau senang menjadi buta dengan mendapatkan 10 ribu dirham?”,

dia menjawab: “Tidak”.

Orang ‘alim itu berkata lagi: “Apakah engkau senang menjadi bisu dengan mendapatkan 10 ribu dirham?”,

dia menjawab: “Tidak”.

Orang ‘alim itu berkata lagi: “Apakah engkau senang menjadi orang yang tidak punya kedua tangan dan kedua kaki dengan mendapatkan 20 ribu dirham?”,

dia menjawab: “Tidak”.

Orang ‘alim itu berkata lagi: “Apakah engkau senang menjadi orang gila dengan mendapatkan 10 ribu dirham?”,

dia menjawab: “Tidak”.

Orang ‘alim itu berkata: “Apakah engkau tidak malu mengadukan Tuanmu (Allah subhanahu wa ta'ala ) sedangkan Dia memiliki harta 50 ribu dinar padamu”. (Lihat: Mukhtashar Minhajul Qashidin, hlm: 366)


DUA KENIKMATAN, BANYAK MANUSIA TERTIPU

Oleh karena itulah seorang hamba hendaklah selalu mengingat-ingat kenikmatan Allah yang berupa kesehatan, kemudian bersyukur kepada-Nya, dengan memanfaatkannya untuk ketaatan kepada-Nya. Jangan sampai menjadi orang yang rugi, sebagaimana hadits di bawah ini:

عَنْ ابْنِ عَبَّاسٍ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُمَا قَالَ قَالَ النَّبِيُّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ نِعْمَتَانِ مَغْبُونٌ فِيهِمَا كَثِيرٌ مِنْ النَّاسِ الصِّحَّةُ وَالْفَرَاغُ (خ 593
"Dari Ibnu Abbas, dia berkata: Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda: “Dua kenikmatan, kebanyakan manusia tertipu pada keduanya: kesehatan dan waktu luang."
(HR. Bukhari, no: 5933)

Al-Hafizh Ibnu Hajar rahimahullah berkata: “Kenikmatan adalah keadaan yang baik, ada yang mengatakan kenikmatan adalah manfaat yang dilakukan dengan bentuk melakukan kebaikan untuk orang lain." (Fathul Bari Syarh Shahih Bukhari, penjelasan hadits no: 5933)

Kata “maghbuun” secara bahasa artinya tertipu di dalam jual-beli, atau lemah fikiran.

Al-Jauhari rahimahullah: “Berdasarkan ini, kedua (makna itu) bisa dipakai di dalam hadits ini. Karena sesungguhnya orang yang tidak menggunakan kesehatan dan waktu luang di dalam apa yang seharusnya, dia telah tertipu, karena dia telah menjual keduanya dengan murah, dan fikirannya tentang hal itu tidaklah terpuji." (Fathul Bari)

Ibnu Baththaal rahimahullah berkata: “Makna hadits ini bahwa seseorang tidaklah menjadi orang yang longgar (punya waktu luang) sehingga dia tercukupi (kebutuhannya) dan sehat badannya. Barangsiapa yang dua perkara itu ada padanya, maka hendaklah dia berusaha agar tidak tertipu, yaitu meninggalkan syukur kepada Allah terhadap nikmat yang telah Dia berikan kepadanya. Dan termasuk syukur kepada Allah adalah melaksanakan perintah-perintah-Nya dan menjauhi larangan-larangan-Nya. Barangsiapa melalaikan hal itu maka dia adalah orang yang tertipu." (Fathul Bari)

Kemudian sabda Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam di atas “kebanyakan manusia tertipu pada keduanya” ini mengisyaratkan bahwa orang yang mendapatkan taufiq (bimbingan) untuk itu, orangnya sedikit.

Ibnul Jauzi rahimahullah berkata: “Kadang-kadang manusia itu sehat, tetapi dia tidak longgar, karena kesibukannya dengan penghidupan. Dan kadang-kadang manusia itu cukup (kebutuhannya), tetapi dia tidak sehat. Maka jika keduanya terkumpul, lalu dia dikalahkan oleh kemalasan melakukan kataatan, maka dia adalah orang yang tertipu. Kesempurnaan itu adalah bahwa dunia merupakan ladang akhirat, di dunia ini terdapat perdagangan yang keuntungannya akan nampak di akhirat.

Maka barangsiapa menggunakan waktu luangnya dan kesehatannya di dalam ketaatan kepada Allah, maka dia adalah orang yang pantas diirikan. Dan barangsiapa menggunakan keduanya di dalam maksiat kepada Allah, maka dia adalah orang yang tertipu. Karena waktu luang akan diikuti oleh kesibukan, dan kesehatan akan diikuti oleh sakit, jika tidak terjadi maka masa tua (pikun).

Sebagaimana dikatakan orang “Panjangnya keselamatan (kesehatan) dan tetap tinggal (di dunia) menyenangkan pemuda. Namun bagaimanakah engkau lihat panjangnya keselamatan (kesehatan) akan berbuat? Akan mengembalikan seorang pemuda menjadi kesusahan jika menginginkan berdiri dan mengangkat (barang), setelah (sebelumnya di waktu muda) tegak dan sehat.” (Fathul Bari)

Ath-Thayyibi rahimahullah berkata: “Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam membuat gambaran bagi mukallaf (orang yang berakal dan dewasa) dengan seorang pedagang yang memiliki modal. Pedagang tersebut mencari keuntungan dengan keselamatan modalnya. Maka caranya dalam hal itu adalah dia memilih orang yang akan dia ajak berdagang, dia selalu menetapi kejujuran dan kecerdikan agar tidak merugi. Kesehatan dan waktu luang adalah modal, seharusnya dia (mukallaf) berdagang dengan Allah dengan keimanan, berjuang menundukkan hawa-nafsu dan usuh agama, agar dia mendapatkan keberuntungan kebaikan dunia dan akhirat. Hal ini seperti firman Allah:

يَاأَيُّهَا الَّذِينَ ءَامَنُوا هَلْ أَدُلُّكُمْ عَلَى تِجَارَةٍ تُنجِيكُم مِّنْ عَذَابٍ أَلِيمٍ
"Hai orang-orang yang beriman, sukakah kamu Aku tunjukkan suatu perniagaan yang dapat menyelamatkan kamu dari azab yang pedih?
(Qs. As-Shaaf: 10)

dan ayat-ayat berikutnya. Berdasarkan itu dia wajib menjauhi ketatan kepada hawa-nafsu dan berdagang/kerja-sama dengan setan agar modalnya tidak sia-sia bersama keuntungannya.

Sabda Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam di dalam hadits tersebut “kebanyakan manusia tertipu pada keduanya” seperti firman Allah:

وَقَلِيلٌ مِّنْ عِبَادِيَ الشَّكُورُ
"Dan sedikit sekali dari hamba-hamba-Ku yang berterima kasih."
(Qs. Sabaa': 13)

“Kebanyakan” di dalam hadits itu sejajar dengan “sedikit” di dalam ayat tersebut.” (Fathul Bari)

Al-Qadhi Abu Bakar bin Al-‘Arabi rahimahullah berkata: “Diperselisihkan tentang kenikmatan Allah yang pertama (yakni yang terbesar) atas hamba. Ada yang mengatakan “keimanan”, ada yang mengatakan “kehidupan”, ada yang mengatakan “kesehatan”. Yang pertama (yaitu keimanan) lebih utama, karena hal itu kenikmatan yang mutlak (menyeluruh). Adapun kehidupan dan kesehatan, maka keduanya adalah kenikmatan duniawi, dan tidak menjadi kenikmatan yang sebenarnya kecuali jika disertai oleh keimanan. Dan di waktu itulah banyak manusia yang merugi, yakni keuntungan mereka hilang atau berkurang. Barangsiapa mengikuti hawa-nafsunya yang banyak memerintahkan keburukan, selalu mengajak rileks, sehingga dia meninggalkan batas-batas (Allah) dan meninggalkan menekuni ketaatan, maka dia telah merugi. Demikian juga jika dia lonnggar, karena orang yang sibuk kemungkinan memiliki alasan, berbeda dengan orang yang longgar, maka alasan hilang darinya dan hujjah (argumen) tegak atasnya." (Fathul Bari)

Maka sepantasnya hamba yang berakal bersegera beramal shalih selama kesempatan masih ada. Hanya Allah Tempat memohon pertolongan.\
 
 

Download AL-QUR'AN AUDIO MP3 Oleh as-Sudais


Agar kita dapat mendengar lantuanan Al-Qur'an setiap saat. Kita bisa download Al-Qur'an mp3 di bawah ini. File tersebut dapat kita putar di komputer, notebook, handphone, dan gadget lainnya.

Cara download: Klik pada nama surat yang diinginkan
  Name   Size
  001_AlFatiha.mp3 300.48 KB
  002_AlBaqarah.mp3 36.98 MB
  003_AalImran.mp3 24.67 MB
  004_AnNisa.mp3 26.51 MB
  005_AlMaida.mp3 19.66 MB
  006_AlAnaam.mp3 20.93 MB
  007_AlAaraf.mp3 24.43 MB
  008_AlAnfaal.mp3 9.18 MB
  009_AtTauba.mp3 18.03 MB
  010_Younus.mp3 13.10 MB
  011_Houd.mp3 13.77 MB
  012_Yousef.mp3 11.60 MB
  013_ArRaad.mp3 6.80 MB
  014_Ibrahim.mp3 6.01 MB
  015_AlHijr.mp3 4.55 MB
  016_AnNahal.mp3 13.22 MB
  017_AlIsra.mp3 11.79 MB
  018_AlKahf.mp3 10.39 MB
  019_Maryam.mp3 6.99 MB
  020_Taaha.mp3 8.61 MB
  021_AlAnbia.mp3 8.44 MB
  022_AlHajj.mp3 9.55 MB
  023_AlMominoon.mp3 7.39 MB
  024_AnNoor.mp3 10.04 MB
  025_AlFurqan.mp3 6.26 MB
  026_AshShuara.mp3 9.70 MB
  027_AnNamal.mp3 7.85 MB
  028_AlQasas.mp3 10.50 MB
  029_AlAnkaboot.mp3 6.50 MB
  030_ArRoom.mp3 6.18 MB
  031_Luqman.mp3 3.97 MB
  032_AsSajda.mp3 2.35 MB
  033_AlAhzab.mp3 10.10 MB
  034_Saba.mp3 5.98 MB
  035_Faatir.mp3 5.05 MB
  036_Yaseen.mp3 6.08 MB
  037_AsSaffat.mp3 6.57 MB
  038_Suad.mp3 5.44 MB
  039_AzZumur.mp3 8.58 MB
  040_AlMomin.mp3 8.04 MB
  041_HaMimSajda.mp3 6.30 MB
  042_AshShura.mp3 5.62 MB
  043_AzZukhruf.mp3 6.61 MB
  044_AdDukhan.mp3 2.97 MB
  045_AlJasia.mp3 3.49 MB
  046_AlAhqaf.mp3 3.89 MB
  047_Muhammad.mp3 3.60 MB
  048_AlFath.mp3 4.41 MB
  049_AlHujrat.mp3 2.85 MB
  050_Qaaf.mp3 3.37 MB
  051_AzZariat.mp3 2.40 MB
  052_AtToor.mp3 2.06 MB
  053_AnNajm.mp3 2.87 MB
  054_AlQamar.mp3 2.95 MB
  055_ArRahman.mp3 4.04 MB
  056_AlWaqiah.mp3 3.13 MB
  057_AlHadid.mp3 3.80 MB
  058_AlMujadilah.mp3 3.33 MB
  059_Alhashr.mp3 3.59 MB
  060_AlMumtahina.mp3 2.81 MB
  061_AsSaff.mp3 1.78 MB
  062_AlJuma.mp3 1.39 MB
  063_AlMunafiqoon.mp3 1.26 MB
  064_AtTaghabun.mp3 1.57 MB
  065_AtTalaq.mp3 1.87 MB
  066_AtTahrim.mp3 1.73 MB
  067_AlMulk.mp3 2.72 MB
  068_AlQalam.mp3 2.52 MB
  069_AlHaqqa.mp3 2.49 MB
  070_AlMaarij.mp3 1.53 MB
  071_Nooh.mp3 1.53 MB
  072_Aljin.mp3 1.75 MB
  073_AlMuzammil.mp3 1.67 MB
  074_AlMudassir.mp3 1.70 MB
  075_AlQiamah.mp3 1.06 MB
  076_AdDahr.mp3 1.69 MB
  077_AlMursalat.mp3 1.73 MB
  078_AnNaba.mp3 1.64 MB
  079_AnNaziat.mp3 1.44 MB
  080_Abasa.mp3 1.20 MB
  081_AtTakweer.mp3 847.67 KB
  082_AlInfitar.mp3 641.27 KB
  083_AlMutaffifin.mp3 1.37 MB
  084_AlInshiqaq.mp3 884.41 KB
  085_AlBurooj.mp3 910.12 KB
  086_AtTariq.mp3 495.02 KB
  087_AlAala.mp3 528.49 KB
  088_AlGhashia.mp3 627.67 KB
  089_AlFajr.mp3 1.00 MB
  090_AlBalad.mp3 539.51 KB
  091_AshShams.mp3 427.27 KB
  092_AlLail.mp3 514.20 KB
  093_AdDuha.mp3 322.37 KB
  094_Alam Nasyrah (Melapangkan).mp3 204.41 KB
  095_AtTeen.mp3 280.33 KB
  096_AlAlaq.mp3 478.69 KB
  097_AlQadar.mp3 210.94 KB
  098_AlBayyana.mp3 617.06 KB
  099_AlZalzalah.mp3 423.72 KB
  100_AlAdiat.mp3 472.16 KB
  101_AlQaria.mp3 427.27 KB
  102_AtTakasur.mp3 348.90 KB
  103_AlAsr.mp3 217.67 KB
  104_AlHumazah.mp3 342.78 KB
  105_AlFeel.mp3 292.16 KB
  106_Quresh.mp3 254.20 KB
  107_AlMaoon.mp3 286.04 KB
  108_AlKausar.mp3 151.35 KB
  109_AlKafiroon.mp3 258.69 KB
  110_AnNasr.mp3 244.00 KB
  111_AlLahab.mp3 252.70 KB
  112_AlIkhlas.mp3 152.37 KB
  113_AlFalaq.mp3 219.51 KB
  114_AnNaas.mp3 268.90 KB

Dari blog Khazanah Ilmi

Share

Twitter Delicious Facebook Digg Stumbleupon Favorites More