9 Penemuan Muslim yang Menggoncang Dunia

Kehidupan modern tak lepas dari penemuan-penemuan ilmuwan muslim. Proyek 1001 kembali mengingatkan sejarah 1000 tahun warisan muslim yang terlupakan. “Ada sebuah lubang dalam ilmu pengetahuan manusia, melompat dari zaman Renaisans langsung kepada Yunani,”

Download Al - Qur'an Mp3

Agar kita dapat mendengar lantuanan Al-Qur'an setiap saat. Kita bisa download Al-Qur'an mp3 di bawah ini. File tersebut dapat kita putar di komputer, notebook, handphone, dan gadget lainnya.

Mengembalikan "Fitrah" Peran Perempuan

Melihat wanita menjadi sopir kendaraan umum busway misalnya, bukanlah pemandangan yang aneh. Jangan heran juga jika ada ibu-ibu mengayuh becak di sekitar anda. Pekerjaan-pekerjaan berat (baca: pekerjaan lelaki) tersebut tidak canggung dilakoni oleh wanita saat ini.

Nikmat Yang Terlupakan

Allah Ta’ala telah menciptakan manusia dan memberikan kenikmatan yang tidak terhingga. Manusia tidak akan mampu menghitungnya.

Khalid bin Walid radhiallahu 'anhu

ORANG seperti dia, tidak dapat tanpa diketahui dibiarkan begitu saja. Dia harus diincar sebagai calon pemimpin Islam. Jika dia menggabungkan diri dengan kaum Muslimin dalam peperangan melawan orang-orang kafir, kita harus mengangkatnya kedalam golongan pemimpin" demikian keterangan Nabi ketika berbicara tentang Khalid sebelum calon pahlawan ini masuk Islam.

بِسْــــــــــــــــــمِ اﷲِالرَّحْمَنِ اارَّحِيم
Showing posts with label Renungan. Show all posts
Showing posts with label Renungan. Show all posts

Thursday, November 24, 2011

TERDAPAT KEBAIKAN DALAM SETIAP PERISTIWA


Allah memberitahukan kita bahwa dalam setiap peristiwa yang Dia ciptakan terdapat kebaikan di dalamnya. Ini merupakan rahasia lain yang menjadikan mudah bagi orang-orang yang beriman untuk bertawakal kepada Allah. Allah menyatakan, bahkan dalam pe­ris­tiwa-peristiwa yang tampaknya tidak me­nye­nangkan terdapat kebaikan di dalam­nya:

“Mungkin kamu tidak menyukai sesuatu, padahal Allah menjadikan padanya kebaik­an yang banyak. (Q.s. an-Nisa’: 19).

“Boleh jadi kamu membenci sesuatu, pada­hal ia amat baik bagimu, dan boleh jadi kamu menyukai sesuatu, padahal ia amat buruk bagimu. Allah mengetahui sedangkan kamu tidak mengetahui.” (Q.s. al-Baqarah: 216).
 
Dengan memahami rahasia ini, orang-orang yang beriman menjumpai kebaikan dan keindahan dalam setiap peristiwa. Peristiwa-peristiwa yang sulit tidak membuat mereka merasa gentar dan khawatir. Mereka tetap tenang ketika menghadapi penderitaan yang ringan maupun berat. Orang-orang Muslim yang ikhlas bahkan melihat kebaikan dan hikmah Ilahi ketika mereka kehilangan selu­ruh harta benda mereka. Mereka tetap ber­syukur kepada Allah yang telah mengkaru­nia­kan kehidupan. Mereka yakin bahwa dengan kehilangan harta tersebut Allah sedang melindungi mereka dari perbuatan maksiat atau agar hatinya tidak terpaut dengan harta benda. Untuk itu, mereka ber­syukur dengan sedalam-dalamnya kepada Allah karena kerugian di dunia tidak ada apa-apanya dibandingkan dengan kerugian di akhirat. Kerugian di akhirat artinya azab yang kekal abadi dan sangat pedih. Orang-orang yang tetap sibuk mengingat akhirat melihat setiap peristiwa sebagai kebaikan dan kein­dah­an untuk menuju kehidupan akhirat. Orang-orang yang bersabar dengan penderita­an yang dialaminya akan menyadari bahwa dirinya sangat lemah di hadapan Allah, dan akan menyadari betapa mereka sangat memer­lukan Dia. Mereka akan berpaling kepada Allah dengan lebih berendah diri dalam doa-doa mereka, dan dzikir mereka akan semakin mendekatkan diri mereka kepada-Nya. Tentu saja hal ini sangat bermanfaat bagi kehidupan akhirat seseorang. Dengan bertawakal sepe­nuh­nya kepada Allah dan dengan menun­jukkan kesabaran, mereka akan memperoleh ridha Allah dan akan memperoleh pahala berupa kebahagiaan abadi.
Manusia harus mencari kebaikan dan kein­dahan tidak saja dalam penderitaan, tetapi juga dalam peristiwa sehari-hari. Misal­nya, masakan yang dimasak dengan susah payah ternyata hangus, dengan kehendak Allah, mungkin akan bermanfaat menjauhkan dari madharat kelak di kemudian hari. Sese­orang mungkin tidak diterima dalam ujian masuk perguruan tinggi untuk menggapai harapan­nya pada masa depan. Bagaimanapun, hen­dak­nya ia mengetahui bahwa terdapat ke­baik­an dalam kegagalannya ini. Demikian pula hendaknya ia dapat berpikir bahwa barang­kali Allah menghendaki dirinya agar terhin­dar dari situasi yang sulit, sehingga ia tetap merasa senang dengan kejadian itu. Dengan berpikir bahwa Allah telah menem­patkan berbagai rahmat dalam setiap peris­tiwa, baik yang terlihat maupun yang tidak, orang-orang yang beriman melihat keindahan dalam bertawakal mengharapkan bimbingan Allah.
Seseorang mungkin tidak selalu melihat kebaikan dan hikmah Ilahi di balik setiap peristiwa. Sekalipun demikian ia mengetahui dengan pasti bahwa terdapat kebaikan dalam setiap peristiwa. Ia memanjatkan doa kepada Allah agar ditunjukkan kepadanya kebaikan dan hikmah Ilahi di balik segala sesuatu yang terjadi.
Orang-orang yang menyadari bahwa segala sesuatu yang diciptakan Allah memiliki tujuan tidak pernah mengucapkan kata-kata, “Seandainya saya tidak melakukan…” atau “Seandainya saya tidak berkata …,” dan seba­gai­nya. Kesalahan, kekurangan, atau peris­tiwa-peristiwa yang kelihatannya tidak meng­untungkan, pada hakikatnya di dalam­nya terdapat rahmat dan masing-masing merupa­kan ujian. Allah memberikan pelajar­an pen­ting dan mengingatkan manusia tentang tuju­an penciptaan pada setiap orang. Bagi orang-orang yang dapat melihat dengan hati nurani­nya, tidak ada kesalahan atau pen­de­ritaan, yang ada adalah pelajaran, peringat­an, dan hikmah dari Allah. Misalnya, seorang Muslim yang tokonya terbakar akan melaku­kan mawas diri, bahkan keimanannya menja­di lebih ikhlas dan lebih lurus, ia menganggap peristiwa itu sebagai peringatan dari Allah agar tidak terlalu sibuk dan terpikat dengan harta dunia.
Hasilnya, apa pun yang dihadapinya dalam kehidupannya, penderitaan itu pada akhirnya akan berakhir sama sekali. Seseorang yang me­ngenang penderitaannya akan merasa takjub bahwa penderitaan itu tidak lebih dari sekadar kenangan dalam pikiran, bagaikan orang yang mengingat kembali adegan dalam film. Oleh karena itu, akan datang suatu saat ketika pengalaman yang sangat pedih akan tinggal menjadi kenangan, bagaikan bayangan adegan dalam film. Hanya ada satu yang masih ada: bagaimanakah sikap seseorang ketika menghadapi kesulitan, dan apakah Allah ridha kepadanya atau tidak. Seseorang tidak akan dimintai tanggung jawab atas apa yang telah ia alami, tetapi yang dimintai tang­gung jawab adalah sikapnya, pikirannya, dan keikhlasannya terhadap apa yang ia alami. Dengan demikian, berusaha untuk melihat kebaikan dan hikmah Ilahi terhadap apa yang diciptakan Allah dalam situasi yang dihadapi seseorang, dan bersikap positif akan menda­tang­kan kebahagiaan bagi orang-orang ber­iman, baik di dunia maupun di akhirat. Tidak duka cita dan ketakutan yang meng­hing­gapi orang-orang yang beriman yang memahami rahasia ini. Demikian pula, tidak ada manusia dan tidak ada peristiwa yang menjadikan rasa takut atau menderita di dunia ini dan di akhirat kelak. Allah menjelas­kan rahasia ini dalam al-Qur’an sebagai ber­ikut:

“Kami berfirman, ‘Turunlah kamu dari surga itu. Kemudian jika datang petunjuk-Ku kepadamu, maka barang siapa yang mengikuti petunjuk-Ku, niscaya tidak ada kekhawatiran atas mereka, dan mereka tidak bersedih hati’.” (Q.s. al-Baqarah: 38).

“Ingatlah, sesungguhnya wali-wali Allah itu tidak ada kekhawatiran terhadap mereka dan mereka tidak bersedih hati. Yaitu orang-orang yang beriman dan mereka selalu ber­takwa. Bagi mereka berita gembira di dalam kehidup­an di dunia dan di akhirat. Tidak ada perubahan bagi kalimat-kalimat Allah. Yang demikian itu adalah kemenangan yang besar.” (Q.s. Yunus: 62-4).

sumber : harun yahya

Friday, September 30, 2011

Renungan Untuk Para Aktivis Dakwah


Video Renungan Untuk Para Aktivis Dakwah

Thursday, September 29, 2011

Haruskah kita berda'wah????

Assalamu'alaykum warahmatullahi wabarakatuh

Dalil untuk berdakwah serta keutamaan terdapat pada Al-Quran dan Sunnah Nabi Shalallahu 'alayhi wasallam. dan para Sahabat, Tabi'in, Tabiit Tabii'in juga berdakwah.

Kepada siapa dahulu kita berikan 'informasi', ilmu, hukum dan perkara agama? Siapa yang lebih utama?

1.) Diri Sendiri
"Hai orang-orang yang beriman, peliharalah dirimu dan keluargamu dari api neraka yang bahan bakarnya adalah manusia dan batu; penjaganya malaikat-malaikat yang kasar, keras, dan tidak mendurhakai Allah terhadap apa yang diperintahkan-Nya kepada mereka dan selalu mengerjakan apa yang diperintahkan. " QS 66:6

2) Keluarga
"Hai orang-orang yang beriman, peliharalah dirimu dan keluargamu dari api neraka yang bahan bakarnya adalah manusia dan batu; penjaganya malaikat-malaikat yang kasar, keras, dan tidak mendurhakai Allah terhadap apa yang diperintahkan-Nya kepada mereka dan selalu mengerjakan apa yang diperintahkan. " QS 66:6

3) Kerabat
"Dan berilah peringatan kepada kerabat-kerabatmu yang terdekat," QS 26:114

4) Masyarakat Umum
"Dan hendaklah ada di antara kamu segolongan umat yang menyeru kepada kebajikan, menyuruh kepada yang ma'ruf dan mencegah dari yang munkar[217]; merekalah orang-orang yang beruntung." QS 3:104

"Kamu adalah umat yang terbaik yang dilahirkan untuk manusia, menyuruh kepada yang ma'ruf, dan mencegah dari yang munkar, dan beriman kepada Allah. Sekiranya Ahli Kitab beriman, tentulah itu lebih baik bagi mereka, di antara mereka ada yang beriman, dan kebanyakan mereka adalah orang-orang yang fasik. " QS 3:110

dan seperti Luqman memberikan nasehat kepada Anaknya , yang difirmankan Allah dalam Al-Qur'an Surah Luqman

"Hai anakku, dirikanlah shalat dan suruhlah (manusia) mengerjakan yang baik dan cegahlah (mereka) dari perbuatan yang mungkar dan bersabarlah terhadap apa yang menimpa kamu. Sesungguhnya yang demikian itu termasuk hal-hal yang diwajibkan (oleh Allah). " QS 31:17



Ada ancaman bagi pendakwah:

1)Jika ia berdakwah tapi tidak untuk dirinya sendiri juga
"Wahai orang-orang yang beriman, kenapakah kamu mengatakan sesuatu yang tidak kamu kerjakan?"
"(Itu) sangatlah dibenci di sisi Allah jika kamu mengatakan apa-apa yang tidak kamu kerjakan." QS 61:2-3


2) Bila yang diajarkannya itu sesat, menyimpang dari ajaran Rasullah, dan dari hukum Allah. baik tafsirnya salah, baik tidak ada dalilnya(bid'ah), semuanya itu mendapat ancaman.

"Sebaliknya, barang siapa mengajak kepada kesesatan, maka ia akan mendapat dosa sebanyak yang diperoleh orang-orang yang mengikutinya tanpa mengurangi dosa mereka sedikitpun." (HR Muslim)

dan Allah tidak akan luput dari dosa dan kesalahan kita
"Dan cukuplah Tuhanmu Maha Mengetahui lagi Maha Melihat dosa hamba-hamba-Nya." QS 17:17

"Sesungguhnya orang-orang yang menyembunyikan apa yang telah Kami turunkan berupa keterangan-keterangan (yang jelas) dan petunjuk, setelah Kami menerangkannya kepada manusia dalam Al Kitab, mereka itu dilaknati Allah dan dilaknati (pula) oleh semua (mahluk) yang dapat mela'nati" QS 2:159

"Dan cukuplah Dia Maha Mengetahui dosa-dosa hamba-hamba-Nya." QS 25:58

"Dan Allah Mahateliti terhadap apa yang kamu kerjakan." QS 63:28



tapi.. Ada keutamaan bagi pendakwah :

"Dan hendaklah ada di antara kamu segolongan umat yang menyeru kepada kebajikan, menyuruh kepada yang ma'ruf dan mencegah dari yang munkar[217]; merekalah orang-orang yang BERUNTUNG." QS 3:104

dari Utsman bahwasanya Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam bersabda: "Orang yang paling UTAMA diantara kalian adalah yang belajar Al Qur'an dan mengajarkannya." (HR Ahmad)

dan sebagaimana diceritakan Jarir bin Abdullah
bahwasanya Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam bersabda:
'Barang siapa dapat memberikan suri tauladan yang baik dalam Islam, lalu suri tauladan tersebut dapat diikuti oleh orang-orang sesudahnya, maka akan dicatat untuknya pahala sebanyak yang diperoleh orang-orang yang mengikutinya tanpa mengurangi SEDIKITPUN pahala yang mereka peroleh.

Sebaliknya, barang siapa memberikan suri tauladan yang buruk dalam Islam, lalu suri tauladan tersebut diikuti oleh orang-orang sesudahnya, maka akan dicatat baginya dosa sebanyak yang diperoleh orang-orang yang mengikutinya tanpa mengurangi dosa yang mereka peroleh sedikitpun.' (HR Muslim)

juga dari Abu Hurairah bahwasanya Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam telah bersabda: "Barang siapa mengajak kepada kebaikan, maka ia akan mendapat pahala sebanyak pahala yang diperoleh orang-orang yang mengikutinya tanpa mengurangi pahala mereka SEDIKITPUN.(HR Muslim)

dan sesungguhnya dari Abu Hurairah lagi bahwasanya Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam juga bersabda, “Apabila anak cucu Adam meninggal dunia maka terputus semua amalannya kecuali dari tiga hal: [1] shadaqah jariyah, [2] ILMU yang bermanfaat, dan [3] anak shalih yang mendoakannnya.” (HR Muslim)


Bagaimana caranya?

1) Tuntutlah Ilmu!
“Allah akan meninggikan orang-orang yang beriman di antara kalian dan orang-orang yang diberi ilmu beberapa derajat.” (QS. Al-Mujadilah: 11)

dari Abu Hurairoh bahwasanya Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Barangsiapa menempuh suatu jalan untuk menuntut ilmu (syar’i), maka Allah akan memudahkan jalan baginya menuju surga.” (HR. Muslim)

daaaaan liat deh, masya Allah
Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam juga bersabda, “…dan sesungguhnya para Malaikat akan merendahkan sayap-sayap mereka bagi penuntut ilmu sebagai tanda ridha terhadap apa yang mereka lakukan. Sungguh seorang yang berilmu akan dimintakan ampun baginya oleh semua yang ada di langit dan bumi sampai pun ikan di lautan. Keutamaan seorang yang berilmu atas seorang ahli ibadah bagaikan keistimewaan bulan di hadapan bintang-bintang. Para ulama adalah pewaris para Nabi. Para Nabi tidak mewariskan dinar ataupun dirham, mereka hanya mewariskan ilmu. Barangsiapa yang dapat mengambilnya, sungguh ia telah meraih bagian yang banyak.” (HR Abu Daud no: 3641-2, At-Tirmidzi no: 2683, Ibnu Majah no: 223, dishahihkan Ibnu Hibban no: 80)

dan Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Barangsiapa yang dikehendaki kebaikan oleh Allah, maka ia akan diberikan kepahaman tentang agama.” (HR Bukhari dan Muslim)

2) Amalkanlah!
Amr bin Qays berkata, “Jika sampai kepadamu suatu ilmu, maka amalkanlah meskipun hanya sekali.” (Hilyatul Auliya karya Abu Nu’aim 5: 102)

Imam Waki’ berkata, “Jika engkau hendak menghafal satu ilmu (hadits), maka amalkanlah!” (Tadribur Rawi karya As-Suyuthi 2: 588)

3) Berdoalah agar ditambah ilmu oleh Allah
Nabi pun berdoa "Ya Tuhanku, tambahkanlah kepadaku ilmu pengetahuan." QS 20:114

dan amalkan Dzikir pagi nabi (waktunya antara Adzan Shubuh hingga terbit matahari) :
Allahumma inni as-aluka 'ilman naa fi'aa, wa rizqan thoyyibaa, wa 'amalan mutaqabbalann (Artinya : Ya Allah, sesungguhnya aku meminta kepada-Mu ilmu yang bermanfaat, rizki yang halal, dan amalan yang diterima. Dibaca 1x) (HR Ibnu Majah)

berdoalah! sesungguhnya Allah berfirman : "Dan Tuhanmu berfirman: "Berdoalah kepada-Ku, niscaya akan Kuperkenankan bagimu." QS 40:60

4) Mintalah kepada Allah agar dimudahkan dalam berdakwah, agar lidah ini tidak kaku saat berdakwah. Seperti doa Nabi Musa :

"wahlul 'uqdatam-mil-lisani"
", dan lepaskanlah kekakuan dari lidahku," QS 20:27


berdoalah, sesungguhnya Allah dekat.tetapi Allah bersemayam di Arsy, bukan deket di kamar kita atau gemana
"Dan apabila hamba-hamba-Ku bertanya kepadamu tentang Aku, maka (jawablah), bahwasanya Aku adalah dekat. Aku mengabulkan permohonan orang yang berdoa apabila ia memohon kepada-Ku, maka hendaklah mereka itu memenuhi (segala perintah-Ku) dan hendaklah mereka beriman kepada-Ku, agar mereka selalu berada dalam kebenaran" QS 2:186

"Sesungguhnya Tuhan kamu ialah Allah yang telah menciptakan langit dan bumi dalam enam masa, lalu Dia bersemayam di atas 'Arsy" 7:54

"(Yaitu) Tuhan Yang Maha Pemurah. Yang bersemayam di atas 'Arsy. " QS 20:5


Sertaaaa kita dibolehkan dengki kepada 2 orang :

dari Abdullah bin Mas'ud berkata; Nabi shallallahu 'alaihi wasallam bersabda: "Tidak boleh mendengki kecuali terhadap dua hal; (terhadap) seorang yang Allah berikan harta lalu dia pergunakan harta tersebut di jalan kebenaran dan seseorang yang Allah berikan hikmah lalu dia mengamalkan dan mengajarkannya kepada orang lain".

dan pertanyaan terakhir...
apa yang masih menghalangi kita untuk berbagi ilmu?

Semoga Bermanfaat
Wassalamu'alaykum warahmatullahi wabarakatuh

---------------------------
Re-post from : 
http://www.facebook.com/topic.php?uid=117940044627&topic=15117&post=153491

Wednesday, September 28, 2011

Alhamdulillah Ya . . .

Coba deh, apa yang bakal kita bayangkan ketika mendengar ungkapan seperti judul diatas??. Mungkin sebagian besar diantara kita akan berpikir “ala Syahrini, Syahrini lewat, atau semacamnya-lah”. Bahkan ungkapan “Alhamdulillah Ya” dari pelantun tembang “Aku Tak Biasa Ini” sempat menjadi trending topic di jagad maya. Makanya tak heran kalau sekarang banyak kita dengar atau mungkin lihat orang-orang di alam nyata ataupun alam virtual yang mengucapkan “Alhamdulillah Yaa” lagi dan lagi.

Tentu kita tidak akan membahas Syahrini dan kehidupan selebnya. Tidak pula tentang lagu-lagunya, dan hubungan asmaranya. Dan tentu dan tidak akan pernah juga kita membahas foto-foto hebohnya. Tidak!! Katakan Tidak Pada Gossip. Yang akan kita bahas disini adalah “Alhamdulillah Yaa”-nya.

Mungkin dulu sebelum “tren” ini dikeluarkan oleh Syahrini. Tidak sedikit pula diantara kita yang jarang atau mungkin sedikit atau juga sangat sedikit sekali dalam berucap Alhamdulillah. Terkadang kita harus “dipaksa” oleh Allah untuk bersyukur mengucap Alhamdulillah. Misal ditengah kita sedang asik menonton bola duel El Classico Barcelona vs Real Madrid.

Tiba-tiba lampu mendadak mati dan “dus” keadaan berubah gelap gulita. Panik, cemas, deg-degan tentu mewarnai perasaan kita saat itu. Dan keajaiban pun tiba lampu kembali menyala, dan TV yang tadinya mati pun mulai mengeluarkan gambarnya. Dan seketika itu pula kita langsung menyebut “Alhamdulillah”. Hal ini mirip yang dikatakan oleh Syaikh Ibnu Athoillah “Kadang kegelapan mendatangimu, karena Allah hendak menyadarkanmu atas besar nikmatnya yang telah Dia berikan kepadamu”. Ya, kita baru sadar akan nikmat listrik, TV, dan lain-lainnya ketika dalam kondisi mati lampu.

Apalagi ketika datang makhluk yang bernama jejaring sosial entah itu Facebook, Twitter, dan sebangsanya. Tidak sedikit, sekali lagi digaris bawahi ya tidak sedikit fenomena mengeluh dan mengeluh dengan jargon utamanya “GALAU”. Walaupun saya juga tidak mengerti makana galau itu apa. Coba kita tambahkan imbuhan me-kan menjadi menggalaukan. Wah sangat sangat tidak enak sekali untuk diucapkan.

Sekarang Alhamdulillah (tanpa Yaa) term “Galau” sudah ada lawan yakni “Alhamdulillah Yaa” yang tidak bisa kita pungkiri ada peran Syahrini disana.

Bersyukur dengan mengucap Alhamdulillah walaupun sederhana, mudah, gampang, encer untuk diamalkan pada kenyataannya sulit untuk direalisasikan. Padahal sebetulnya banyak sekali fadhilah atau keutamaan dalam mengamalkannya tersebut. Allah SWT menyuruh untuk ber-Alhamdulillah dalam firmanNya di surat An Naml 93 “Dan katakanlah segala puji hanya bagi Allah, Dia akan memperlihatkan kepada mu tanda-tanda kebesaranNya maka kamu akan mengetahuinya. Dan Tuhanmu tidak lengah terhadap yang kamu kerjakan”. Segala pujian hanya untuk dan milik Allah, bukan untuk suami, istri, pacar, ataupun tetangga kita.

Di ayat yang lain “Dan bersyukurlah kepada Allah jika memang hanya dia saja yang kamu sembah (Al-Baqarah 172)”. Juga dapat kita temukan dalam ayat yang lain Allah SWT berfirman “Oleh karena itu, pegang teguhlah Syari'at yang Aku berikan kepadamu, dan hendaklah engkau menjadi orang yang bersyukur. (Al-A'raf 144)”.

Dan memang seharusnya karakter seorang mukmin adalah ketika diberi musibah bersabar, dan saat mendapat nikmat maka ia bersyukur. Bahkan dalam surat Ibrohim 7 yang sudah kita hafal diluar kepala Allah SWT mengancam kepada orang-orang yang ingkar dengan adzabNya dan kebalikannya akan menambah kebaikan kepada orang-orang yang bersyukur.

Rasulullah SAW pun berqiyamul lail sampai-sampai kakinya bengkak dikarenakan ingin menjadi hamba yang bersyukur. Ya, lagi-lagi jauuuuuuh dibandingkan kita yang masih lebih banyak mengeluh ketimbang bersyukur atas nikmat Allah. Yang juga masih beribadah hanya karena ingin menuntaskan kewajiban, atau mungkin sebatas takut neraka dan mengharap surga. Karena memang sudah janji Iblis yang akan menyesatkan manusia sebanyak-banyaknya manusia dalam jurang kekufuran (Baca Al A’rof 17)

Dalam sholat pun kita diajarkan untuk senantiasa bersyukur. Kita diwajibkan membaca Al fatihah yang didalamnya terdapat kalimat Alhamdulillah. Tapi apa daya Al Fatihah yang keluar dari mulut kita hanya sekedar bunyi yang tidak kita sadari dan mendalami hakikat maknanya.

Rasulullah SAW juga pernah bersabda diriwayatkan Imam Muslim “. . . . . sesungguhnya setiap tasbih adalah sedekah, setiap takbir adalah sedekah, setiap tahmid adalah sedekah, setiap tahlil adalah sedekah . . . . .”

Juga dalam buku Fiqh Sholat Empat Madzhab diterangkan oleh Hadits Nabi SAW dari Abu Hurairoh “Barang siapa bertasbih selesai sholat 33x, takbir 33x, tahmid 33x. Maka semua berjumlah 99 kemudian disempurnakan menjadi 100 dengan mengucap La ilaaha illaLlahu wahdahu la syarikalahu, lahul mulku wa lahul hamdu wa huwa ‘alaa kulli syay’in qodir, maka diampuni dosanya meskipun sebanyak buih dilautan (HR Bukhori, Muslim, dan Abu Dawud)

Masih dibuku yang sama dari Ka’ab ibn ‘Ujrah bahwa Rasulullah SAW bersabda “Berbagai siksa tidak akan mengenai orang yang mengucap atau melakukan setiap selesai sholat fardhu : tasbih 3x, tahmid 33x, dan takbir 33x (HR Muslim).

Dan salah satu adab dalam berdoa jika ingin dikabulkan oleh Allah adalah dimulainya dengan membaca Alhamdulillah sebagaimana Rasulullah SAW pernah bersabda “Jika salah seorang di antara kalian berdoa maka hendaknya dia memulainya dengan memuji dan menyanjung Allah, kemudian dia bershalawat kepada Nabi -shallallahu alaihi wasallam-, kemudian setelah itu baru dia berdoa sesukanya.” (HR. Abu Daud)”. Dan diakhiri pula dengan membaca hamdalah “Dan penutup doa mereka ialah Alhamdulillahi Robbil ‘Alamin (QS Yunus 10).

Sedikit telah kita tahu mengenai Alhamdulillah. Sekarang kembali ke diri kita masing-masing apakah akan menjadi pribadi yang bersyukur atau malah sebaliknya menjadi makhluk yang kufur. Sebagaimana yang diterangkan Allah SWT “ Sesungguhnya kami telah menciptakan manusia dari setetes air mani yang bercampur. Kami hendak mengujinya dengan beban perintah dan larangan. Karena itu kami jadikan ia mendengar dan melihat. Sesungguhnya kami telah menunjukinya jalan yang lurus: Ada yang bersyukur, namun ada pula yang kufur. (Al-Insan: 2-3)”

"Ya Tuhanku, tunjukkanlah kepadaku bagaimana mensyukuri nikmat-Mu yang telah Engkau berikan kepadaku dan kepada ibu-bapakku. Jadikanlah amal perbuatanku sesuai dengan keridhaanMu dan berikanlah kebaikan kepadaku berkelanjutan sampai kepada anak-cucuku. Sesungguhnya aku bertaubat kepadaMu, dan aku adalah orang yang berserah diri. (Al-Ahkaf: 15).

Ah, rasa-rasanya saya iri sama Syahrini yang sedikit banyak telah membumikan kalimat “Alhamdulillah Yaa”. Bukankah ketika kita mencontohkan suatu kebaikan lantas ada orang yang mengikuti kita juga akan mendapat pahala??. Subhanallah, rasa-rasanya tidak sedikit orang yang mulai familiar dengan Alhamdulillah atas peran Syahrini. Mudah-mudahan hal tersebut menjadi ladang kebaikan dan sebab Allah turunkan hidayah kepadanya.” Alhamdulillah Yaa ....”

Dan bagi kita yang selama ini hanya melafalkan tanpa mengetahui akan makna dan keutamaan Alhamdulillah. Mulai sekarang, mari sama-sama kita ucapkan hal itu dengan niat ibadah bukan hanya sekedar candaan belaka. Sebagai perwujudan rasa syukur kita terhadap nikmat Allah SWT. “Alhamdulillah Yaa ....”

"Seandainya kalian menghitung nikmat Allah, tentu kalian tidak akan mampu" (An-Nahl: 18).

“Akhirnya selesai juga ,, Alhamdulillah Yaa ..”

Wa Allahu A’lam

-------------------
Oleh Dinar Zul Akbar
http://mukminsehat.multiply.com/
sumber : EraMuslim.com

Wednesday, September 21, 2011

Nikmat Yang Terlupakan

Allah Ta’ala telah menciptakan manusia dan memberikan kenikmatan yang tidak terhingga. Manusia tidak akan mampu menghitungnya.

Allah berfirman:
وَإِن تَعُدُّوا نِعْمَةَ اللهِ لاَ تُحْصُوهَا إِنَّ اللهَ لَغَفُورٌ رَّحِيمٌ
"Dan jika kamu menghitung-hitung nikmat Allah, niscaya kamu tak dapat menentukan jumlahnya. Sesungguhnya Allah benar-benar Maha Pengampun lagi Maha Penyayang."
(Qs. An-Nahl: 18)


NIKMAT SEHAT

Di antara kenikmatan Allah yang sangat banyak adalah kesehatan. Kesehatan merupakan kenikmatan yang diakui setiap orang, memiliki nilai yang besar. Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam telah menyebutkan hal ini dengan sabdanya:

مَنْ أَصْبَحَ مِنْكُمْ مُعَافًى فِي جَسَدِهِ آمِنًا فِي سِرْبِهِ عِنْدَهُ قُوتُ يَوْمِهِ فَكَأَنَّمَا حِيزَتْ لَهُ الدُّنْيَا
"Barangsiapa di antara kamu masuk pada waktu pagi dalam keadaan sehat badannya, aman pada keluarganya, dia memiliki makanan pokoknya pada hari itu, maka seolah-olah seluruh dunia dikumpulkan untuknya."
(HR. Ibnu Majah, no: 4141; dan lain-lain; dihasankan oleh Syaikh Al-Albani di dalam Shahih Al-Jami’ush Shaghir, no: 5918)

Kita melihat kenyataan manusia yang rela mengeluarkan biaya yang besar untuk berobat, ini bukti nyata mahalnya kesehatan yang merupakan kenikmatan dari Allah Ta’ala. Akan tetapi kebanyakan manusia lalai dari kenikmatan kesehatan ini, dia akan ingat jika kesehatan hilang darinya.

Diriwayatkan bahwa seseorang mengadukan kemiskinannya dan menampakkan kesusahannya kepada seorang ‘alim. Maka orang ‘alim itu berkata: “Apakah engkau senang menjadi buta dengan mendapatkan 10 ribu dirham?”,

dia menjawab: “Tidak”.

Orang ‘alim itu berkata lagi: “Apakah engkau senang menjadi bisu dengan mendapatkan 10 ribu dirham?”,

dia menjawab: “Tidak”.

Orang ‘alim itu berkata lagi: “Apakah engkau senang menjadi orang yang tidak punya kedua tangan dan kedua kaki dengan mendapatkan 20 ribu dirham?”,

dia menjawab: “Tidak”.

Orang ‘alim itu berkata lagi: “Apakah engkau senang menjadi orang gila dengan mendapatkan 10 ribu dirham?”,

dia menjawab: “Tidak”.

Orang ‘alim itu berkata: “Apakah engkau tidak malu mengadukan Tuanmu (Allah subhanahu wa ta'ala ) sedangkan Dia memiliki harta 50 ribu dinar padamu”. (Lihat: Mukhtashar Minhajul Qashidin, hlm: 366)


DUA KENIKMATAN, BANYAK MANUSIA TERTIPU

Oleh karena itulah seorang hamba hendaklah selalu mengingat-ingat kenikmatan Allah yang berupa kesehatan, kemudian bersyukur kepada-Nya, dengan memanfaatkannya untuk ketaatan kepada-Nya. Jangan sampai menjadi orang yang rugi, sebagaimana hadits di bawah ini:

عَنْ ابْنِ عَبَّاسٍ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُمَا قَالَ قَالَ النَّبِيُّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ نِعْمَتَانِ مَغْبُونٌ فِيهِمَا كَثِيرٌ مِنْ النَّاسِ الصِّحَّةُ وَالْفَرَاغُ (خ 593
"Dari Ibnu Abbas, dia berkata: Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda: “Dua kenikmatan, kebanyakan manusia tertipu pada keduanya: kesehatan dan waktu luang."
(HR. Bukhari, no: 5933)

Al-Hafizh Ibnu Hajar rahimahullah berkata: “Kenikmatan adalah keadaan yang baik, ada yang mengatakan kenikmatan adalah manfaat yang dilakukan dengan bentuk melakukan kebaikan untuk orang lain." (Fathul Bari Syarh Shahih Bukhari, penjelasan hadits no: 5933)

Kata “maghbuun” secara bahasa artinya tertipu di dalam jual-beli, atau lemah fikiran.

Al-Jauhari rahimahullah: “Berdasarkan ini, kedua (makna itu) bisa dipakai di dalam hadits ini. Karena sesungguhnya orang yang tidak menggunakan kesehatan dan waktu luang di dalam apa yang seharusnya, dia telah tertipu, karena dia telah menjual keduanya dengan murah, dan fikirannya tentang hal itu tidaklah terpuji." (Fathul Bari)

Ibnu Baththaal rahimahullah berkata: “Makna hadits ini bahwa seseorang tidaklah menjadi orang yang longgar (punya waktu luang) sehingga dia tercukupi (kebutuhannya) dan sehat badannya. Barangsiapa yang dua perkara itu ada padanya, maka hendaklah dia berusaha agar tidak tertipu, yaitu meninggalkan syukur kepada Allah terhadap nikmat yang telah Dia berikan kepadanya. Dan termasuk syukur kepada Allah adalah melaksanakan perintah-perintah-Nya dan menjauhi larangan-larangan-Nya. Barangsiapa melalaikan hal itu maka dia adalah orang yang tertipu." (Fathul Bari)

Kemudian sabda Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam di atas “kebanyakan manusia tertipu pada keduanya” ini mengisyaratkan bahwa orang yang mendapatkan taufiq (bimbingan) untuk itu, orangnya sedikit.

Ibnul Jauzi rahimahullah berkata: “Kadang-kadang manusia itu sehat, tetapi dia tidak longgar, karena kesibukannya dengan penghidupan. Dan kadang-kadang manusia itu cukup (kebutuhannya), tetapi dia tidak sehat. Maka jika keduanya terkumpul, lalu dia dikalahkan oleh kemalasan melakukan kataatan, maka dia adalah orang yang tertipu. Kesempurnaan itu adalah bahwa dunia merupakan ladang akhirat, di dunia ini terdapat perdagangan yang keuntungannya akan nampak di akhirat.

Maka barangsiapa menggunakan waktu luangnya dan kesehatannya di dalam ketaatan kepada Allah, maka dia adalah orang yang pantas diirikan. Dan barangsiapa menggunakan keduanya di dalam maksiat kepada Allah, maka dia adalah orang yang tertipu. Karena waktu luang akan diikuti oleh kesibukan, dan kesehatan akan diikuti oleh sakit, jika tidak terjadi maka masa tua (pikun).

Sebagaimana dikatakan orang “Panjangnya keselamatan (kesehatan) dan tetap tinggal (di dunia) menyenangkan pemuda. Namun bagaimanakah engkau lihat panjangnya keselamatan (kesehatan) akan berbuat? Akan mengembalikan seorang pemuda menjadi kesusahan jika menginginkan berdiri dan mengangkat (barang), setelah (sebelumnya di waktu muda) tegak dan sehat.” (Fathul Bari)

Ath-Thayyibi rahimahullah berkata: “Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam membuat gambaran bagi mukallaf (orang yang berakal dan dewasa) dengan seorang pedagang yang memiliki modal. Pedagang tersebut mencari keuntungan dengan keselamatan modalnya. Maka caranya dalam hal itu adalah dia memilih orang yang akan dia ajak berdagang, dia selalu menetapi kejujuran dan kecerdikan agar tidak merugi. Kesehatan dan waktu luang adalah modal, seharusnya dia (mukallaf) berdagang dengan Allah dengan keimanan, berjuang menundukkan hawa-nafsu dan usuh agama, agar dia mendapatkan keberuntungan kebaikan dunia dan akhirat. Hal ini seperti firman Allah:

يَاأَيُّهَا الَّذِينَ ءَامَنُوا هَلْ أَدُلُّكُمْ عَلَى تِجَارَةٍ تُنجِيكُم مِّنْ عَذَابٍ أَلِيمٍ
"Hai orang-orang yang beriman, sukakah kamu Aku tunjukkan suatu perniagaan yang dapat menyelamatkan kamu dari azab yang pedih?
(Qs. As-Shaaf: 10)

dan ayat-ayat berikutnya. Berdasarkan itu dia wajib menjauhi ketatan kepada hawa-nafsu dan berdagang/kerja-sama dengan setan agar modalnya tidak sia-sia bersama keuntungannya.

Sabda Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam di dalam hadits tersebut “kebanyakan manusia tertipu pada keduanya” seperti firman Allah:

وَقَلِيلٌ مِّنْ عِبَادِيَ الشَّكُورُ
"Dan sedikit sekali dari hamba-hamba-Ku yang berterima kasih."
(Qs. Sabaa': 13)

“Kebanyakan” di dalam hadits itu sejajar dengan “sedikit” di dalam ayat tersebut.” (Fathul Bari)

Al-Qadhi Abu Bakar bin Al-‘Arabi rahimahullah berkata: “Diperselisihkan tentang kenikmatan Allah yang pertama (yakni yang terbesar) atas hamba. Ada yang mengatakan “keimanan”, ada yang mengatakan “kehidupan”, ada yang mengatakan “kesehatan”. Yang pertama (yaitu keimanan) lebih utama, karena hal itu kenikmatan yang mutlak (menyeluruh). Adapun kehidupan dan kesehatan, maka keduanya adalah kenikmatan duniawi, dan tidak menjadi kenikmatan yang sebenarnya kecuali jika disertai oleh keimanan. Dan di waktu itulah banyak manusia yang merugi, yakni keuntungan mereka hilang atau berkurang. Barangsiapa mengikuti hawa-nafsunya yang banyak memerintahkan keburukan, selalu mengajak rileks, sehingga dia meninggalkan batas-batas (Allah) dan meninggalkan menekuni ketaatan, maka dia telah merugi. Demikian juga jika dia lonnggar, karena orang yang sibuk kemungkinan memiliki alasan, berbeda dengan orang yang longgar, maka alasan hilang darinya dan hujjah (argumen) tegak atasnya." (Fathul Bari)

Maka sepantasnya hamba yang berakal bersegera beramal shalih selama kesempatan masih ada. Hanya Allah Tempat memohon pertolongan.\
 
 

Saturday, June 25, 2011

Berpikir Strategis

Allah Swt senantiasa memerintahkan manusia untuk menjalankan proses belajar dalam mengarungi kehidupan ini. Seorang muslim hendaknya mampu untuk berpikir strategis agar dapat menjalankan tugas sebagai khalifah di bumi sesuai dengan amanat Allah Azza wa jalla. Untuk itu kita perlu menentukan visi dan misi yang diniatkan dalam hati dan diaplikasikan ke dalam aktivitas sehari – hari dengan berpegang teguh pada Al Qur’an dan Sunatullah serta bercermin pada pribadi Rasulullah, sebagai pedoman hidup.

Dalam kehidupan ini, terdapat tiga episode utama yang berlaku universal. Episode pertama adalah kelahiran. Episode kedua yaitu pernikahan. Dan episode ketiga adalah datangnya kematian. Seorang muslim yang berusaha mencapai visi rahmatan lil alamiin adalah seseorang yang berhasil menentukan misi yang tepat lalu melaksanakannya dengan kesungguhan pada ketiga episode kehidupan tersebut.

Visi dan Misi

Visi adalah segala sesuatu atau kondisi yang inin dicapai oleh seorang individu pada suatu periode dimasa yang akan datang. Visi seorang muslim tentu saja selamat di akhirat. Lalu dengan apa agar visi tersebut dapat dicapai? Tentu saja dengan memahami Al-Qur’an serta mengamalkannya dalam kehidupam sehari – hari.

Setiap muslim dituntut untuk bersungguh – sungguh dalam menjaga amanat dari Allah. Ia harus berusaha untuk menjadi manusia terbaik dengan kualitas iman dan taqwa. Selayaknya ia menebarkan kebaikan, menciptakan kedamaian, dan tidak menyebabkan kerusakan alam ataupun dekadensi moral yang senantiasa membawa bencana bagi umat manusia.

Setelah menentukan visi dari kehidupannya, seorang muslim dituntut untuk mampu menentukan dan menjalankan misinya.

Dari perintah Allah dalam Al Qur’an serta dipertegas oleh sunnah Rasulullah Saw, di antaranya terdapat tiga misi utama yang diamanahkan bagi seorang Muslim. Misi yang pertama adalah untuk belajar. Misi yang kedua adalah mengaplikasikan ilmu yang telah dimiliki. Misi yang terakhir adalah berjuang di jalan Allah (Jihad fii sabilillah).

Menuntut Ilmu
Allah Swt memerintahkan agar manusia senantiasa melakukan proses belajar. Dengan belajar seorang muslim akan memiliki ilmu sebagai modal paling berharga dalam menjalankan amal dan ibadah sesuai dengan perintah Allah.

Bagi seorang muslim, menuntut ilmu mencakup tentang ilmu diniyah serta ilmu – ilmu yang menyertainya (ilmu kauniyah). Ilmu diniyah, yaitu ilmu yang didapat hanya dengan mempelajari Al Qur’an sesuai apa yang telah diajarkan oleh Rasul dan para sahabatnya. Sedangkan kauniyah bersifat keduniawian yang sifatnya sebagai penunjang. Contohnya : ilmu fisika, matematika, ekonomi, dll.

Dengan memiliki ilmu, seseorang akan ditinggikan derajatnya oleh Allah. Dengan catatan ia harus mengamalkan ilmu yang dimilikinya untuk perbaikan dirinya serta memberi kebaikan pada umat muslim lainnya.

Mengaplikasikan Ilmu
Allah telah memerintahkan manusia untuk menuntut ilmu. Kemudian ilmu tersebut harus diaplikasikan dalam kehidupan sehari – hari. Dengan ilmu seseorang akan mampu hidup, bekerja, dan beraktifitas dengan baik dan terarah. Ilmu dapat digunakan untuk mencari nafkah, sebagai lading amal, dan bekal untuk di akhirat bila dapat mengamalkannya dengan baik serta menghindari hal – hal yang tidak diperbolehkan dalam Al Qur’an. Jangan gunakan ilmu untuk membuat kerusakan di bumi, yang akibatnya adalah penderitaan bagi masyarakat luas.

Jihad Fii Sabilillah
Berjuanglah agar tetap berada di jalan Allah dan bersungguh – sungguh di dalam melaksanakan perintah-Nya. Karena itulah yang dinamakan jihad.

Seorang pemimpin harus mampu menjadi pemimpin yang amanah. Ia harus mampu menjaga diri serta lingkungan sekitar, mengarahkan orang – orang yang dipimpinnya agar tidak melanggar perintah Allah. Membentuk diri serta lingkungannya agar mampu menjadi para pejuang di jalan Allah.

Semoga Allah Swt mampu membantu kita mencapai visi dan misi strategis sebagai seorang muslim. Mencapai derajat Rahmatan lil alamiin. Berjuang untuk Islam dan semata – mata karena Allah Swt demi keselamatan di akhirat kelak.

(Furqon edisi 24)

Share

Twitter Delicious Facebook Digg Stumbleupon Favorites More