9 Penemuan Muslim yang Menggoncang Dunia
Kehidupan modern tak lepas dari penemuan-penemuan ilmuwan muslim. Proyek 1001 kembali mengingatkan sejarah 1000 tahun warisan muslim yang terlupakan. “Ada sebuah lubang dalam ilmu pengetahuan manusia, melompat dari zaman Renaisans langsung kepada Yunani,”
Download Al - Qur'an Mp3
Agar kita dapat mendengar lantuanan Al-Qur'an setiap saat. Kita bisa download Al-Qur'an mp3 di bawah ini. File tersebut dapat kita putar di komputer, notebook, handphone, dan gadget lainnya.
Mengembalikan "Fitrah" Peran Perempuan
Melihat wanita menjadi sopir kendaraan umum busway misalnya, bukanlah pemandangan yang aneh. Jangan heran juga jika ada ibu-ibu mengayuh becak di sekitar anda. Pekerjaan-pekerjaan berat (baca: pekerjaan lelaki) tersebut tidak canggung dilakoni oleh wanita saat ini.
Nikmat Yang Terlupakan
Allah Ta’ala telah menciptakan manusia dan memberikan kenikmatan yang tidak terhingga. Manusia tidak akan mampu menghitungnya.
Khalid bin Walid radhiallahu 'anhu
ORANG seperti dia, tidak dapat tanpa diketahui dibiarkan begitu saja. Dia harus diincar sebagai calon pemimpin Islam. Jika dia menggabungkan diri dengan kaum Muslimin dalam peperangan melawan orang-orang kafir, kita harus mengangkatnya kedalam golongan pemimpin" demikian keterangan Nabi ketika berbicara tentang Khalid sebelum calon pahlawan ini masuk Islam.
Thursday, November 24, 2011
TERDAPAT KEBAIKAN DALAM SETIAP PERISTIWA
Friday, September 30, 2011
Thursday, September 29, 2011
Haruskah kita berda'wah????
Wednesday, September 28, 2011
Alhamdulillah Ya . . .
-------------------
http://mukminsehat.multiply.com/
sumber : EraMuslim.com
Wednesday, September 21, 2011
Nikmat Yang Terlupakan
Allah berfirman:
(Qs. An-Nahl: 18)
NIKMAT SEHAT
Di antara kenikmatan Allah yang sangat banyak adalah kesehatan. Kesehatan merupakan kenikmatan yang diakui setiap orang, memiliki nilai yang besar. Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam telah menyebutkan hal ini dengan sabdanya:
(HR. Ibnu Majah, no: 4141; dan lain-lain; dihasankan oleh Syaikh Al-Albani di dalam Shahih Al-Jami’ush Shaghir, no: 5918)
Kita melihat kenyataan manusia yang rela mengeluarkan biaya yang besar untuk berobat, ini bukti nyata mahalnya kesehatan yang merupakan kenikmatan dari Allah Ta’ala. Akan tetapi kebanyakan manusia lalai dari kenikmatan kesehatan ini, dia akan ingat jika kesehatan hilang darinya.
Diriwayatkan bahwa seseorang mengadukan kemiskinannya dan menampakkan kesusahannya kepada seorang ‘alim. Maka orang ‘alim itu berkata: “Apakah engkau senang menjadi buta dengan mendapatkan 10 ribu dirham?”,
dia menjawab: “Tidak”.
Orang ‘alim itu berkata lagi: “Apakah engkau senang menjadi bisu dengan mendapatkan 10 ribu dirham?”,
dia menjawab: “Tidak”.
Orang ‘alim itu berkata lagi: “Apakah engkau senang menjadi orang yang tidak punya kedua tangan dan kedua kaki dengan mendapatkan 20 ribu dirham?”,
dia menjawab: “Tidak”.
Orang ‘alim itu berkata lagi: “Apakah engkau senang menjadi orang gila dengan mendapatkan 10 ribu dirham?”,
dia menjawab: “Tidak”.
Orang ‘alim itu berkata: “Apakah engkau tidak malu mengadukan Tuanmu (Allah subhanahu wa ta'ala ) sedangkan Dia memiliki harta 50 ribu dinar padamu”. (Lihat: Mukhtashar Minhajul Qashidin, hlm: 366)
DUA KENIKMATAN, BANYAK MANUSIA TERTIPU
Oleh karena itulah seorang hamba hendaklah selalu mengingat-ingat kenikmatan Allah yang berupa kesehatan, kemudian bersyukur kepada-Nya, dengan memanfaatkannya untuk ketaatan kepada-Nya. Jangan sampai menjadi orang yang rugi, sebagaimana hadits di bawah ini:
(HR. Bukhari, no: 5933)
Al-Hafizh Ibnu Hajar rahimahullah berkata: “Kenikmatan adalah keadaan yang baik, ada yang mengatakan kenikmatan adalah manfaat yang dilakukan dengan bentuk melakukan kebaikan untuk orang lain." (Fathul Bari Syarh Shahih Bukhari, penjelasan hadits no: 5933)
Kata “maghbuun” secara bahasa artinya tertipu di dalam jual-beli, atau lemah fikiran.
Al-Jauhari rahimahullah: “Berdasarkan ini, kedua (makna itu) bisa dipakai di dalam hadits ini. Karena sesungguhnya orang yang tidak menggunakan kesehatan dan waktu luang di dalam apa yang seharusnya, dia telah tertipu, karena dia telah menjual keduanya dengan murah, dan fikirannya tentang hal itu tidaklah terpuji." (Fathul Bari)
Ibnu Baththaal rahimahullah berkata: “Makna hadits ini bahwa seseorang tidaklah menjadi orang yang longgar (punya waktu luang) sehingga dia tercukupi (kebutuhannya) dan sehat badannya. Barangsiapa yang dua perkara itu ada padanya, maka hendaklah dia berusaha agar tidak tertipu, yaitu meninggalkan syukur kepada Allah terhadap nikmat yang telah Dia berikan kepadanya. Dan termasuk syukur kepada Allah adalah melaksanakan perintah-perintah-Nya dan menjauhi larangan-larangan-Nya. Barangsiapa melalaikan hal itu maka dia adalah orang yang tertipu." (Fathul Bari)
Kemudian sabda Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam di atas “kebanyakan manusia tertipu pada keduanya” ini mengisyaratkan bahwa orang yang mendapatkan taufiq (bimbingan) untuk itu, orangnya sedikit.
Ibnul Jauzi rahimahullah berkata: “Kadang-kadang manusia itu sehat, tetapi dia tidak longgar, karena kesibukannya dengan penghidupan. Dan kadang-kadang manusia itu cukup (kebutuhannya), tetapi dia tidak sehat. Maka jika keduanya terkumpul, lalu dia dikalahkan oleh kemalasan melakukan kataatan, maka dia adalah orang yang tertipu. Kesempurnaan itu adalah bahwa dunia merupakan ladang akhirat, di dunia ini terdapat perdagangan yang keuntungannya akan nampak di akhirat.
Maka barangsiapa menggunakan waktu luangnya dan kesehatannya di dalam ketaatan kepada Allah, maka dia adalah orang yang pantas diirikan. Dan barangsiapa menggunakan keduanya di dalam maksiat kepada Allah, maka dia adalah orang yang tertipu. Karena waktu luang akan diikuti oleh kesibukan, dan kesehatan akan diikuti oleh sakit, jika tidak terjadi maka masa tua (pikun).
Sebagaimana dikatakan orang “Panjangnya keselamatan (kesehatan) dan tetap tinggal (di dunia) menyenangkan pemuda. Namun bagaimanakah engkau lihat panjangnya keselamatan (kesehatan) akan berbuat? Akan mengembalikan seorang pemuda menjadi kesusahan jika menginginkan berdiri dan mengangkat (barang), setelah (sebelumnya di waktu muda) tegak dan sehat.” (Fathul Bari)
Ath-Thayyibi rahimahullah berkata: “Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam membuat gambaran bagi mukallaf (orang yang berakal dan dewasa) dengan seorang pedagang yang memiliki modal. Pedagang tersebut mencari keuntungan dengan keselamatan modalnya. Maka caranya dalam hal itu adalah dia memilih orang yang akan dia ajak berdagang, dia selalu menetapi kejujuran dan kecerdikan agar tidak merugi. Kesehatan dan waktu luang adalah modal, seharusnya dia (mukallaf) berdagang dengan Allah dengan keimanan, berjuang menundukkan hawa-nafsu dan usuh agama, agar dia mendapatkan keberuntungan kebaikan dunia dan akhirat. Hal ini seperti firman Allah:
(Qs. As-Shaaf: 10)
dan ayat-ayat berikutnya. Berdasarkan itu dia wajib menjauhi ketatan kepada hawa-nafsu dan berdagang/kerja-sama dengan setan agar modalnya tidak sia-sia bersama keuntungannya.
Sabda Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam di dalam hadits tersebut “kebanyakan manusia tertipu pada keduanya” seperti firman Allah:
(Qs. Sabaa': 13)
“Kebanyakan” di dalam hadits itu sejajar dengan “sedikit” di dalam ayat tersebut.” (Fathul Bari)
Al-Qadhi Abu Bakar bin Al-‘Arabi rahimahullah berkata: “Diperselisihkan tentang kenikmatan Allah yang pertama (yakni yang terbesar) atas hamba. Ada yang mengatakan “keimanan”, ada yang mengatakan “kehidupan”, ada yang mengatakan “kesehatan”. Yang pertama (yaitu keimanan) lebih utama, karena hal itu kenikmatan yang mutlak (menyeluruh). Adapun kehidupan dan kesehatan, maka keduanya adalah kenikmatan duniawi, dan tidak menjadi kenikmatan yang sebenarnya kecuali jika disertai oleh keimanan. Dan di waktu itulah banyak manusia yang merugi, yakni keuntungan mereka hilang atau berkurang. Barangsiapa mengikuti hawa-nafsunya yang banyak memerintahkan keburukan, selalu mengajak rileks, sehingga dia meninggalkan batas-batas (Allah) dan meninggalkan menekuni ketaatan, maka dia telah merugi. Demikian juga jika dia lonnggar, karena orang yang sibuk kemungkinan memiliki alasan, berbeda dengan orang yang longgar, maka alasan hilang darinya dan hujjah (argumen) tegak atasnya." (Fathul Bari)
Maka sepantasnya hamba yang berakal bersegera beramal shalih selama kesempatan masih ada. Hanya Allah Tempat memohon pertolongan.\
Saturday, June 25, 2011
Berpikir Strategis
Allah Swt senantiasa memerintahkan manusia untuk menjalankan proses belajar dalam mengarungi kehidupan ini. Seorang muslim hendaknya mampu untuk berpikir strategis agar dapat menjalankan tugas sebagai khalifah di bumi sesuai dengan amanat Allah Azza wa jalla. Untuk itu kita perlu menentukan visi dan misi yang diniatkan dalam hati dan diaplikasikan ke dalam aktivitas sehari – hari dengan berpegang teguh pada Al Qur’an dan Sunatullah serta bercermin pada pribadi Rasulullah, sebagai pedoman hidup.Dalam kehidupan ini, terdapat tiga episode utama yang berlaku universal. Episode pertama adalah kelahiran. Episode kedua yaitu pernikahan. Dan episode ketiga adalah datangnya kematian. Seorang muslim yang berusaha mencapai visi rahmatan lil alamiin adalah seseorang yang berhasil menentukan misi yang tepat lalu melaksanakannya dengan kesungguhan pada ketiga episode kehidupan tersebut.
Visi dan Misi
Visi adalah segala sesuatu atau kondisi yang inin dicapai oleh seorang individu pada suatu periode dimasa yang akan datang. Visi seorang muslim tentu saja selamat di akhirat. Lalu dengan apa agar visi tersebut dapat dicapai? Tentu saja dengan memahami Al-Qur’an serta mengamalkannya dalam kehidupam sehari – hari.
Setiap muslim dituntut untuk bersungguh – sungguh dalam menjaga amanat dari Allah. Ia harus berusaha untuk menjadi manusia terbaik dengan kualitas iman dan taqwa. Selayaknya ia menebarkan kebaikan, menciptakan kedamaian, dan tidak menyebabkan kerusakan alam ataupun dekadensi moral yang senantiasa membawa bencana bagi umat manusia.
Setelah menentukan visi dari kehidupannya, seorang muslim dituntut untuk mampu menentukan dan menjalankan misinya.
Dari perintah Allah dalam Al Qur’an serta dipertegas oleh sunnah Rasulullah Saw, di antaranya terdapat tiga misi utama yang diamanahkan bagi seorang Muslim. Misi yang pertama adalah untuk belajar. Misi yang kedua adalah mengaplikasikan ilmu yang telah dimiliki. Misi yang terakhir adalah berjuang di jalan Allah (Jihad fii sabilillah).
Menuntut Ilmu
Allah Swt memerintahkan agar manusia senantiasa melakukan proses belajar. Dengan belajar seorang muslim akan memiliki ilmu sebagai modal paling berharga dalam menjalankan amal dan ibadah sesuai dengan perintah Allah.
Bagi seorang muslim, menuntut ilmu mencakup tentang ilmu diniyah serta ilmu – ilmu yang menyertainya (ilmu kauniyah). Ilmu diniyah, yaitu ilmu yang didapat hanya dengan mempelajari Al Qur’an sesuai apa yang telah diajarkan oleh Rasul dan para sahabatnya. Sedangkan kauniyah bersifat keduniawian yang sifatnya sebagai penunjang. Contohnya : ilmu fisika, matematika, ekonomi, dll.
Dengan memiliki ilmu, seseorang akan ditinggikan derajatnya oleh Allah. Dengan catatan ia harus mengamalkan ilmu yang dimilikinya untuk perbaikan dirinya serta memberi kebaikan pada umat muslim lainnya.
Mengaplikasikan Ilmu
Allah telah memerintahkan manusia untuk menuntut ilmu. Kemudian ilmu tersebut harus diaplikasikan dalam kehidupan sehari – hari. Dengan ilmu seseorang akan mampu hidup, bekerja, dan beraktifitas dengan baik dan terarah. Ilmu dapat digunakan untuk mencari nafkah, sebagai lading amal, dan bekal untuk di akhirat bila dapat mengamalkannya dengan baik serta menghindari hal – hal yang tidak diperbolehkan dalam Al Qur’an. Jangan gunakan ilmu untuk membuat kerusakan di bumi, yang akibatnya adalah penderitaan bagi masyarakat luas.
Jihad Fii Sabilillah
Berjuanglah agar tetap berada di jalan Allah dan bersungguh – sungguh di dalam melaksanakan perintah-Nya. Karena itulah yang dinamakan jihad.
Seorang pemimpin harus mampu menjadi pemimpin yang amanah. Ia harus mampu menjaga diri serta lingkungan sekitar, mengarahkan orang – orang yang dipimpinnya agar tidak melanggar perintah Allah. Membentuk diri serta lingkungannya agar mampu menjadi para pejuang di jalan Allah.
Semoga Allah Swt mampu membantu kita mencapai visi dan misi strategis sebagai seorang muslim. Mencapai derajat Rahmatan lil alamiin. Berjuang untuk Islam dan semata – mata karena Allah Swt demi keselamatan di akhirat kelak.
(Furqon edisi 24)







